Bonus Demografi Jadi Kunci Indonesia Capai Negara Maju 2045

oleh -11 Dilihat
Prof. Budi Setiyono. [Foto: Dok. Ist]

Padang, Kabapedia.com – Bonus demografi menjadi salah satu modal utama Indonesia untuk mewujudkan visi menjadi negara maju pada 2045. Namun, besarnya jumlah penduduk usia produktif harus diikuti dengan peningkatan produktivitas agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca juga: 

Hal itu disampaikan Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), Prof. Budi Setiyono saat berada di Kota Padang, Rabu (19/8/2026), yang turut didampingi Kepala BKKBN Sumatera Barat (Sumbar), Mardalena.

Dalam paparannya, Prof. Budi menyinggung target pendapatan per kapita Indonesia pada 2045 yang diproyeksikan mencapai sekitar 32.000 dolar AS. Untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maju, pemerintah saat ini mengejar pertumbuhan ekonomi minimal 8 persen mulai 2029.

Menurutnya, Indonesia memiliki modal demografi yang besar. Dari total penduduk sekitar 248,67 juta jiwa, sebanyak 196 juta jiwa atau 68,9 persen merupakan penduduk usia produktif.

“Penduduk usia produktif itu harus diaktualisasikan menjadi produktif yang sebenarnya,” ujar Prof. Budi.

Ia menjelaskan, apabila seluruh penduduk usia produktif tersebut benar-benar mampu bekerja secara produktif, Indonesia berpotensi mendapatkan tambahan produk domestik bruto (PDB) sekitar Rp13.000 triliun pada 2029.

“Jika target ini tercapai, maka Indonesia tidak lagi membutuhkan utang luar negeri pada tahun 2029,” katanya.

Karena itu, kapitalisasi bonus demografi dinilai penting untuk mendukung program prioritas Presiden sekaligus mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen.

Prof. Budi mengingatkan, tantangan Indonesia tidak ringan. Dalam 20 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata hanya berada di kisaran 4,5 persen.

Salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah besarnya jumlah pekerja di sektor informal. Saat ini, hampir 59 persen penduduk bekerja di sektor informal yang memiliki keterbatasan dalam kepastian perlindungan dan jaminan pensiun.

“Ini jumlahnya sangat besar dan menjebak negara kita menjadi income middle country,” ujarnya.

Selain persoalan produktivitas dan struktur ketenagakerjaan, pemerintah juga menghadapi tantangan pembangunan manusia, termasuk angka stunting yang masih tinggi secara nasional, yakni mencapai 19,8 persen.

Prof. Budi juga menyoroti keberadaan sekitar 25 juta orang yang berada dalam posisi sebagai sandwich generation. Kondisi tersebut menunjukkan adanya tekanan ekonomi dan sosial yang harus ditanggung generasi produktif karena pada saat bersamaan mereka harus memenuhi kebutuhan keluarga inti sekaligus membantu orang tua.

Menurutnya, berbagai persoalan kependudukan tersebut harus ditangani sejak generasi muda. Karena itu, penyiapan kehidupan berkeluarga, kesehatan mental, pendidikan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam memanfaatkan bonus demografi.

Sementara itu, Rektor UNP Krismadinata dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kehadiran Prof. Budi Setiyono dalam kegiatan tersebut.

Ia menilai Prof. Budi merupakan sosok yang sangat menginspirasi dan kehadirannya di UNP menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk memahami berbagai persoalan kependudukan serta tantangan pembangunan Indonesia ke depan.

Baca juga:

Dengan bonus demografi yang diproyeksikan menjadi kekuatan utama Indonesia, kualitas generasi muda akan menjadi penentu apakah besarnya jumlah penduduk usia produktif mampu berubah menjadi kekuatan ekonomi atau justru menjadi tantangan pembangunan. [isr]

No More Posts Available.

No more pages to load.