Menggali Sejarah dari Peradaban Tertua Manusia: Iran (Bagian 1-5)

oleh -227 Dilihat
Potret negara Iran. Ilustrasi Sejarah Peradaban Iran [Foto: Dok. Ist]

Kabapedia.com – Pada tanggal 13 April 2024, setelah hampir setengah abad permusuhan, Iran dan Israel akhirnya terlibat dalam konflik terbuka. Serangan pertama dilancarkan oleh Israel, yang menghancurkan gedung konsulat Tehran di ibukota Suriah, Damaskus, menewaskan tujuh Garda Revolusi Iran. Iran membalas dengan mengirim lebih dari 300 drone dan rudal balistik serta jelajah untuk membombardir fasilitas militer Israel.

Konflik ini menarik karena serangan bertubi-tubi dari Iran membuat Israel, yang selama ini mengabaikan teguran dari PBB, akhirnya datang mengadu ke Dewan Keamanan PBB atas aksi Iran dan mendesak supaya PBB mengecam serangan Iran tersebut. Iran, yang telah menjadi salah satu negara yang ditakuti Israel selama beberapa dekade, disebut-sebut membawa ancaman terbesar bagi mereka dan bahkan dianggap sebagai musuh kuat oleh Amerika Serikat.

Baca juga:

Untuk memahami kekuatan Iran, kita harus menengok ke belakang dan melintasi zaman. Iran, atau yang dikenal sebagai Persia di dunia Barat, merupakan rumah bagi peradaban besar tertua di dunia yang ada sejak tahun sebelum masehi. Menurut filsuf Jerman, George Wilhelm Friedrich Hegel, Iran adalah bangsa bersejarah yang pertama ada di dunia.

Peradaban di tanah Iran sudah dikenal lebih maju sejak zaman prasejarah. Hal ini dibuktikan dengan peninggalan-peninggalan artefak arkeologi buatan manusia purba Neandertal yang diduga berumur 100.000 tahun dari pertengahan zaman batu tua atau paruh pertama milenium pertama sebelum masehi. Selain itu, kawasan Barat Daya Iran juga merupakan bagian dari Hilal Subur, tempat sebagian besar tanaman pangan pertama umat manusia dibudidayakan.

Namun, bangsa Persia sendiri baru muncul di Iran pada zaman besi. Sebelumnya, wilayah Iran dikuasai dan dibangun oleh suku-suku lain seperti suku Susa yang mendiami wilayah Iran semenjak 4395 sebelum masehi, mengalahkan peradaban Mesopotamia. Suku Susa ini berkembang dan dikenal sebagai bangsa Elam.

Ketika memasuki zaman besi dan kekaisaran Asiria bangkit, bangsa Elam terusir dari berbagai wilayah kekuasaannya dan akhirnya berbaur dengan bangsa-bangsa lain yang memasuki wilayah Iran di dataran tinggi. Bangsa-bangsa itu adalah bangsa Media, Persia, Partia, Urartu, dan beberapa bangsa lain yang datang dari Stepa Pontus Kaspia. Kebanyakan bangsa-bangsa ini tunduk dengan kekaisaran Asiria.

Di tahun 646 sebelum masehi, bangsa Elam kemudian dihabisi oleh raja Asiria saat itu, Raza Asyur Baniipal. Mereka yang tersisa dari bangsa Elam terpaksa melarikan diri ke daerah-daerah lain untuk berlindung. Melihat sejarah panjangnya raja-raja Asiria yang berusaha menaklukkan suku-suku lain terutama di kawasan barat Iran, akhirnya bangsa-bangsa kecil pun bersatu membentuk negara-negara yang lama-lama semakin membesar dan sangat terpusat pemerintahannya untuk mengalahkan kekaisaran Asiria.

Di abad ke-7 sebelum masehi, bangsa Media akhirnya mencapai kemerdekaannya dari kekaisaran Asiria. Mereka kemudian bekerja sama dengan bangsa Bebel untuk mengepung dan menghancurkan Asiria. Taktik yang mereka lancarkan berhasil membuat ibukota Asiria hancur sehingga akhirnya kekaisaran Asiria runtuh. Bangsa Media inilah yang kemudian dianggap berjasa membangun Iran sebagai sebuah bangsa dan kekaisaran serta tercatat dalam sejarah sebagai bangsa yang mendirikan kekaisaran Iran pertama, kekaisaran terbesar di zamannya.

Koresi Agung atau Kores 2 yang memimpin kekaisaran Iran lalu mengembangkan kekaisaran dari perpaduan Media dan Persia yang kelak menjadi Armenia. Dengan kebijakan dari Koresi Agung yang dikenal sangat santun, dia mampu membuat rakyatnya tunduk dan patuh pada pemerintahan Persia yang akhirnya membuat kekaisaran Persia ini berumur panjang.

Putranya yang menjadi pewaris kekuasaan, bernama Kambisus 2, memilih untuk melakukan ekspansi kekuasaan dengan menaklukkan Mesir kuno yang tersisa sebagai negara kuat di kawasan itu. Kambisus 2 mampu menaklukkan Mesir kuno dan meruntuhkan kekaisaran Mesir yang ke-26. Namun sayangnya, pewaris Koresi Agung ini harus meninggal karena jatuh sakit ketika dia akan meninggalkan Mesir.

Dalam beberapa catatan yang dibuat oleh Herodotus, sejarawan Yunani kuno, diyakini bahwa Kambisus 2 meninggal karena kemarahan dewa-dewi Mesir kuno yang tidak terima bangsanya dikalahkan. Sepeninggal Kambisus 2 dan setelah sempat terjadi kekosongan kekuasaan, Darius 1 memutuskan untuk mengambil alih kekuasaan dan menetapkan dirinya sebagai pewaris tahta Persia berdasarkan silsilah keluarga yang lurus dari para penguasa kekaisaran Akaimenia.

Sempat terjadi pemberontakan saat Darius 1 naik takhta, tapi dia dengan cepat mampu meredamnya. Di bawah kepemimpinan Darius, ibukota kekaisaran berpindah ke Susa dan dia membangun Parsepolis. Darius juga membangun sebuah terusan untuk menghubungkan Sungai Nil dan Laut Merah. Pembangunan ini akan menjadi cikal bakal Terusan Sues yang kita ketahui sekarang.

Banyak perkembangan maju yang terjadi selama masa kekuasaannya. Hal ini tercatat dalam prasasti-prasasti kerajaan dengan bahasa Persia tua ditulis menggunakan aksara paku khusus yang telah disesuaikan. Selain di bawah kekuasaan Koresi Agung, di tangan Darius inilah tercatat bahwa kekaisaran Persia telah tumbuh menjadi kekaisaran terbesar dalam sejarah umat manusia.

Darius juga memerintah dan mengatur sebagian besar dunia karena dia mengatur wilayah-wilayah penaklukannya yang membentang di tiga benua yaitu Eropa, Asia, dan Afrika. Kekaisaran Persia telah menjadi negara adikuasa pertama di dunia yang landasan hukumnya sangat menjaga persatuan rakyatnya karena bertabur toleransi dan hormat pada budaya serta agama lain.

Namun di penghujung abad ke-6 sebelum masehi, Darius memutuskan untuk melakukan perang terhadap beberapa wilayah di Eropa di luar kekuasaannya. Beberapa bangsa, kota, dan wilayah di pesisir Yunani pun ditaklukkan olehnya. Ketika Athena, ibukota negara Yunani, akhirnya turun tangan, pecahlah Perang Yunani-Persia yang berlangsung sepanjang setengah waktu dari abad ke-5 sebelum masehi dan menjadi salah satu perang terpenting dalam sejarah Eropa.

Pihak Persia sempat menderita kekalahan setelah membawa kembali wilayah dan bangsa Trakia dan Makedonia ke dalam kekuasaan Persia. Namun, penerus tahta Darius, yaitu Ahasuerus 1, akhirnya melancarkan invasi kedua atas Yunani. Banyak wilayah di Yunani daratan yang berhasil dikuasai, tapi tidak lama karena dalam peperangan-peperangan berikutnya, Yunani meraih kemenangan dan memukul mundur pasukan Persia yang telah kehilangan kendali atas banyak wilayah di tanah Yunani.

Peperangan panjang itu baru benar-benar berakhir setelah ada perjanjian damai Kalias di tahun 449 sebelum masehi. Beberapa dekade setelahnya, ketika Darius 2 wafat karena usia tua.

Sebuah Perjalanan Melalui Sejarah

Setelah kematian Alexander Agung, kekaisaran yang ia bentuk terpecah. Panglima perangnya, Seleukus I Nikator, mendirikan Kekaisaran Seleukia yang mencakup wilayah Iran, Mesopotamia, Suriah, dan Anatolia. Namun, Kekaisaran Seleukia hanya berkuasa selama seabad sebelum akhirnya runtuh dan diusir dari tanah Iran oleh Kekaisaran Partia.

Kekaisaran Partia, yang didirikan oleh bangsa Arsasi, awalnya menguasai dataran tinggi Iran dan Mesopotamia pada akhir abad ke-3 SM. Mereka juga memperluas kekuasaan mereka ke Arab Timur. Bangsa Partia ini dikenal cukup tangguh dan telah menjadi musuh utama Kekaisaran Romawi di timur.

Namun, meski bangsa Partia punya kekuatan militer yang baik, mereka kesulitan dalam pengepungan kota sehingga sulit bagi mereka untuk menduduki daerah-daerah taklukannya. Kekaisaran Partia bertahan selama 5 abad, jauh lebih lama jika dibandingkan dengan banyak kekaisaran di timur. Mereka baru bisa digulingkan oleh bangsa Persia yang sedang berada di bawah kepemimpinan Kekaisaran Sasani pada 224 SM.

Iran kemudian memulai gerakan pembaharuan dalam negeri di bidang ekonomi maupun militer ketika dipimpin oleh Kaisar pertama, Darius I. Sekali lagi, Iran menjadi salah satu kekuatan paling berkuasa di dunia selama lebih dari 400 tahun, menyaingi Kekaisaran Romawi dan Kekaisaran Bizantium.

Setelah lebih dari satu abad berkonflik dengan Kekaisaran Romawi, akhirnya Iran memasuki babak baru dalam sejarahnya. Perang antara Kekaisaran Sasania dan Kekaisaran Romawi Bizantium pecah juga di Anatolia, Kaukasus Barat, Mesopotamia, Armenia, dan Lebanon yang menghasilkan perjanjian damai. Perang Romawi-Persia pada akhirnya pun dianggap usai setelah berlangsung lebih dari 700 tahun.

Setelah konflik dengan Romawi Bizantium mereda, bangsa Persia dalam zaman Kekaisaran Sasania telah mencapai titik puncak peradabannya dan menjadi Kekaisaran Iran Raya terakhir yang paling berpengaruh dan memberi dampak pada dunia.

Era yang telah berganti membawa bangsa Persia ke zaman yang berbeda. Bangsa Persia yang tampaknya sudah kelelahan berperang harus menerima kekalannya tanpa perlawanan panjang ketika pasukan Muslim menginvasi wilayah kekuasaannya dan melakukan Pertempuran Al-Qadisiyah di Al-Hilah, atau sekarang sudah masuk ke dalam wilayah Irak.

Penaklukan Islam atas Persia di zaman pertengahan Iran ditandai dengan Umar Bin Khattab yang memimpin invasi ke wilayah Sasania setelah perang saudara berakhir. Penaklukan kaum Muslim atas Persia mengakhiri Kekaisaran Sasania dan menyebabkan kemunduran agama Majusi di Persia. Mayoritas penduduk Iran beralih ke Islam, tetapi banyak aspek peradaban Persia sebelumnya tetap diserap oleh pemerintahan Islam.

Setelah kejatuhan Dinasti Abbasiyah, dinasti-dinasti Turki dari Asia Tengah memerintah Persia. Dinasti ini awalnya hanya tentara budak, tetapi mereka mengambil alih administrasi Khilafah Abbasiyah karena kelemahan khalifahnya. Kejatuhan Abbasiyah membuat munculnya pemerintahan-pemerintahan kecil di seluruh Iran.

Pada tahun 962, Alubtigin, seorang pegawai pasukan budak Samanid, kemudian mendirikan pemerintahan Ghaznawiyah setelah menaklukkan Ghazna. Di kemudian hari, pasukan Turki Utsmani, khususnya tentara Seljuk Oghuz dari Amudarya, menyerang dan menaklukkan Persia.

Peristiwa penaklukan ini membuat Persia mengalami kebangkitan budaya dan ilmu pengetahuan di bawah pimpinan Tughril dan Shah Malik. Namun, setelah kematian Shah Malik, akhirnya Persia kembali terpecah menjadi pemerintahan-pemerintahan kecil. Hal ini terjadi sampai Genghis Khan dari Mongolia menyerbu Persia.

Bukan untuk membangun bangsa ini seperti yang dilakukan oleh pasukan Turki Utsmani, tapi untuk menghancurkan kota-kotanya dan menyebabkan kehancuran besar bagi rakyat Iran. Sistem irigasi yang hancur akhirnya mengakibatkan perubahan besar dalam pola pemukiman. Selain itu, penyerangan Genghis Khan juga menyebabkan sebagian besar penduduk, terutama pria, terbunuh. Hal ini menyebabkan penurunan populasi secara drastis.

Selama Mongol berkuasa di Iran, hanya ada sedikit perbaikan di Iran yang tidak sebanding dengan kehancuran yang terjadi. Namun, setelah kekuasaan beralih kepada Gazan Khan, dia dan penasihatnya yang bernama Rashid ad-Din berhasil memulihkan ekonomi Iran dengan menurunkan cukai, mendorong pertanian, memperbaiki sistem irigasi, dan meningkatkan perdagangan dengan India dan China.

Setelah Gazan Khan wafat, dia digantikan oleh penguasa yang bernama Abu Said. Dan selepas Abu Said wafat, kemudian Iran sekali lagi terpecah menjadi beberapa pemerintahan kecil. Hal ini berlangsung sampai Timur Lenk, seorang Mongol Turki, kemudian menaklukkan Persia. Meskipun serangannya tidak sebesar Genghis Khan, ia masih menyebabkan kehancuran besar di kota-kota seperti Isfahan dan Shiraz.

Setelah kematiannya, Kesultanan Iran terpecah, tetapi pengaruh Mongolia tetap berlanjut dengan pemerintahan yang dijalankan oleh Uzbek dan Bayundur Turkmen hingga bangkitnya Kesultanan Safawi yang memerintah seluruh wilayah Iran dan sekitarnya. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa Kesultanan Safawi adalah Kesultanan yang berjasa terhadap berdirinya bangsa Iran modern.

Pada peralihan di zaman modern ini, Iran dikenal dengan nama Negara Agung Iran dalam kekuasaan Kesultanan Safawi yang berlangsung sejak 1501 M hingga 1722 M. Terjadilah perubahan besar sesudah perubahan yang terjadi pasca penaklukan kaum Muslim terutama di Iran. Perubahan besar ini berupa penetapan Mazhab 12 Imam dari Firqah Syiah sebagai agama resmi kekaisaran. Peristiwa ini menjadi salah satu titik balik terpenting dalam sejarah Islam.

Iran kemudian tumbuh menjadi salah satu kekaisaran bubuk mesiu Islam, maksudnya adalah Iran menjadi negara yang punya kekuatan militer kuat dengan pengembangan persenjataan modern yang lengkap. Iran bersaing dengan negara-negara lain dalam kekuasaan Kesultanan Safawi, sekaligus dengan musuh utamanya saat itu, yakni Kesultanan Utsmaniyah dan Kesultanan Mughal.

Selepas Kesultanan Safawi runtuh, akhirnya Iran diperintah oleh Dinasti Afshariyah, bangsa Zand, dan Qajar. Di abad ke-17 M, negara-negara Eropa mulai menjelajahi Iran dan memberikan pengaruh kuat mereka di sana sehingga Iran mulai kehilangan beberapa wilayahnya lewat abad ke-19.

Era baru mengubah Iran ketika terjadi Revolusi Konstitusi Iran. Ia memperkenalkan sistem monarki konstitusional. Raja Iran tetap mempertahankan kekuasaan, tapi sebuah parlemen bernama Majlis didirikan pada tanggal 7 Oktober 1906. Tidak lama setelah itu, penemuan minyak mentah di wilayah Khuzestan menarik minat Inggris dan Rusia untuk meluaskan pengaruh di Iran supaya bisa memonopoli minyak, bahkan memecah belah Iran. Kedua negara adidaya tersebut bersaing ketat. Pemerintah Iran saat itu sedang dipegang oleh Dinasti Qajar yang lemah.

Transformasi dari Monarki ke Republik Islam

Sebelum menjadi Syah atau Raja, Syah Reza adalah seorang menteri perang yang trampil dan sangat dihormati. Ketika Syah Ahmad dari Dinasti Kajar dianggap tidak kompeten mengurus negara karena usianya masih muda, pemerintahan Iran menjadi kacau dan penuh kasus korupsi. Masyarakat Iran mendesak supaya posisinya digantikan oleh Reza yang masih menjabat sebagai seorang menteri.

Pada tahun 1925, Reza diangkat menjadi Syah untuk menggantikan Syah Ahmad. Selama masa kekuasaannya, Shah Reza membentuk pemerintah otoriter yang mengutamakan nilai-nilai nasionalisme, militarisme, sekularisme, dan antikomunisme. Dia melakukan berbagai reformasi di bidang sosial dan ekonomi, menata ulang Angkatan Bersenjata, administrasi pemerintah, dan keuangan negara.

Namun, bagi sebagian masyarakat Iran, usaha modernisasi yang dilakukan Syah Reza dinilai terlampau cepat dan sekedar polesan belaka untuk menutupi penindasan, korupsi, dan beban pajak yang diterapkannya. Aturan-aturan baru yang dibuat oleh Syah Reza memicu ketegangan dan pemberontakan pada tahun 1935.

Ketika Perang Dunia II pecah, tentara sekutu meminta agar Shah Reza mengeluarkan Jerman. Namun, dia menolak permintaan ini. Maka, tentara sekutu yang dipimpin oleh Inggris melancarkan serangan atas Iran dan menggulingkan Syah Reza. Putranya, Muhammad Reza, menggantikan ayahnya sebagai Syah Iran yang baru.

Kekacauan dalam pemerintahan Iran yang dipimpin Syah Muhammad Reza akhirnya melahirkan gerakan revolusi Iran atau dikenal juga dengan revolusi Islam. Ini adalah revolusi yang mengubah Iran dari sebuah monarki absolut di bawah kepemimpinan Syah Muhammad Reza menjadi sebuah Republik Islam di bawah kepemimpinan Ayatullah Ruhollah Khomeini.

Revolusi ini dimulai sejak Januari 1978 dengan demonstrasi-demonstrasi besar dan baru berakhir pada bulan Desember 1979. Pada tanggal 1 April 1979, Iran secara resmi menjadi negara Republik Islam Iran ketika sebagian besar rakyat Iran menyetujui pembentukannya melalui sebuah referendum internasional.

Selama periode berjalan untuk memperkokoh kekuatan Iran dalam kepemimpinan Khomeini di tahun 1982 hingga 1983, Iran berhasil menanggulangi kehancuran ekonomi, militer, dan aparat pemerintahnya. Protes dan pemberontakan dari berbagai golongan berhasil ditekan secara efektif oleh rezim yang baru ini.

Salah satu peristiwa awal dalam sejarah berdirinya Republik Islam Iran yang berdampak panjang adalah krisis sandera Iran. Peristiwa ini dipicu dari diterimanya mantan Syah Iran masuk ke Amerika Serikat untuk menjalani pengobatan kanker sehingga pada 4 November 1979, para pelajar Iran akhirnya menyandra para personil kedutaan AS.

Dengan demikian, perjalanan sejarah Iran telah melalui berbagai transformasi, dari monarki ke republik, dan dari sekularisme ke Islamisme. Meski penuh tantangan dan konflik, Iran tetap bertahan dan terus berusaha membangun negaranya.

Dari Konflik ke Stabilitas

Pada bulan Januari 1981, dunia menyaksikan sebuah peristiwa dramatis di Iran. Sebanyak 52 orang Amerika disandera selama 444 hari. Upaya penyelamatan oleh militer Amerika berakhir dengan kegagalan. Peristiwa ini memicu gelombang dukungan besar-besaran di Iran dan meningkatkan popularitas Ayatollah Khomeini, yang kemudian menjuluki Amerika sebagai “Si Setan Besar”. Di Amerika, peristiwa ini dianggap sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional dan menciptakan gerakan anti-Iran yang besar.

Peristiwa penyanderaan ini tidak hanya berdampak pada hubungan internasional, tetapi juga memicu krisis ekonomi, politik, dan sosial di Iran. Situasi ini dimanfaatkan oleh Saddam Hussein, pemimpin Irak saat itu, yang melihat peluang untuk mengambil keuntungan dari kekacauan yang disebabkan oleh revolusi Islam dan kelemahan militer Iran.

Pada tanggal 22 September 1980, Saddam Hussein melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran, dengan ambisi untuk memperluas akses Irak ke Teluk Persia. Serangan ini mengejutkan Khomeini dan rakyat Iran, namun, meski mendominasi pertempuran pada awal peperangan, Angkatan Darat Irak akhirnya dipukul mundur oleh militer Iran.

Perang Iran-Irak, yang seharusnya berakhir pada tahun 1982, berlanjut selama enam tahun lagi dan baru benar-benar berakhir pada tahun 1988 dengan kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh PBB. Perang ini menciptakan kerugian besar di kedua belah pihak dan melanggar aturan perang internasional karena penggunaan senjata kimia oleh Irak.

Setelah gencatan senjata, fokus Iran beralih ke dalam negeri. Mulai dari tahun 1988, pemerintah Iran secara sistematis menghukum mati ribuan tahanan politik dalam peristiwa yang dikenal sebagai Pembantaian Iran 1988.

Pada tahun 1989, menjelang ajalnya, Khomeini menunjuk Ali Khamenei, yang saat itu menjabat sebagai presiden Iran, menjadi pemimpin besar Iran berikutnya. Di bawah pemerintahannya, rezim Iran terlihat sebagai oligarki ulama dibandingkan sebagai konstitusi teokratis.

Ali Akbar Hashemi Rafsanjani, pengganti Ali di kursi kepresidenan, memusatkan perhatiannya pada pembangunan kembali perekonomian dan infrastruktur yang hancur karena perang. Dia berhasil mengendalikan populasi penduduk dengan pengendalian kelahiran, memotong pengeluaran militer, dan menormalisasi hubungan diplomatik dengan negara-negara tetangga seperti Arab Saudi.

Namun, ketegangan kembali muncul ketika Rafsanjani digantikan oleh tokoh reformasi Iran, Mohammad Khatami, pada tahun 1997. Pemerintahannya yang berwawasan reformasi cukup berlawanan dengan kaum ulama yang semakin konservatif. Ketegangan ini memuncak pada bulan Juli 1999 dengan protes dan demonstrasi besar-besaran oleh gerakan anti-pemerintah yang pecah di Tehran.

Dengan demikian, perjalanan sejarah Iran adalah perjalanan dari konflik ke stabilitas, dengan banyak tantangan dan perubahan sepanjang jalan. Meski penuh tantangan, Iran terus berusaha untuk mencapai stabilitas dan kemajuan di tengah-tengah konflik dan perubahan.

Kekuatan Militer dan Konflik Regional

Pada pemilihan presiden Iran di bulan Juni 2001, Muhammad Khatami terpilih kembali sebagai presiden. Namun, masa jabatannya yang kedua ini diwarnai oleh hambatan dan pelemahan terhadap gerakan reformasi yang dicetuskan olehnya oleh kalangan konservatif di parlemen. Akibatnya, generasi muda Iran mulai menumbuhkan sikap dan rasa tidak peduli terhadap politik.

Meski kondisi internal Iran penuh konflik, negara ini menjadi salah satu negara terkuat di dunia, terutama di kawasan regional Timur Tengah. Iran disebut-sebut sebagai aktor utama di wilayah Timur Tengah yang pengaruhnya sangat besar dalam konflik yang terjadi di Suriah, Yaman, dan Lebanon.

Iran masih menjadi salah satu negara dengan kekuatan militer tertinggi. Indeks statistik tahunan yang dikeluarkan Global Fire Power menunjukkan bahwa Iran berada di urutan ke-14 dari 145 negara dengan kekuatan militer tertinggi. Iran juga merupakan negara yang paling royal mengeluarkan dana negara untuk urusan militer.

Iran telah menolak campur tangan asing, terutama Barat, di dalam negaranya atau wilayah-wilayah regionalnya. Hal ini sudah terjadi bahkan memuncak sejak revolusi Islam di tahun 1979. Iran sangat konsisten menolak campur tangan militer negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, di wilayah Timur Tengah dan bahkan mengkritik campur tangan yang dilakukan mereka di negara-negara lainnya.

Konflik Iran-Israel yang terjadi beberapa waktu lalu adalah bentuk balasan penyerangan di Tehran dan bukan untuk campur tangan dalam urusan Palestina. Iran dan Israel sendiri sudah bermusuhan sejak tahun 1979 ketika revolusi Islam terjadi. Para pemimpin Iran meyakini dan menganggap Israel sebagai penjajah yang terbukti menindas bangsa Palestina.

Saat ini, kondisi di Timur Tengah masih memanas. Beberapa pengamat militer mengkhawatirkan bahwa akan terjadi serangan skala besar yang selama ini diredam oleh kedua belah pihak. Dengan kekuatan militer dan pengaruh yang dimiliki, Iran terus menjadi aktor penting dalam dinamika konflik regional di Timur Tengah.

Pada pemilihan presiden Iran di bulan Juni 2001, Muhammad Khatami terpilih kembali sebagai presiden. Namun, masa jabatannya yang kedua ini diwarnai oleh hambatan dan pelemahan terhadap gerakan reformasi yang dicetuskan olehnya oleh kalangan konservatif di parlemen. Akibatnya, generasi muda Iran mulai menumbuhkan sikap dan rasa tidak peduli terhadap politik.

Meski kondisi internal Iran penuh konflik, negara ini menjadi salah satu negara terkuat di dunia, terutama di kawasan regional Timur Tengah. Iran disebut-sebut sebagai aktor utama di wilayah Timur Tengah yang pengaruhnya sangat besar dalam konflik yang terjadi di Suriah, Yaman, dan Lebanon.

Iran masih menjadi salah satu negara dengan kekuatan militer tertinggi. Indeks statistik tahunan yang dikeluarkan Global Fire Power menunjukkan bahwa Iran berada di urutan ke-14 dari 145 negara dengan kekuatan militer tertinggi. Iran juga merupakan negara yang paling royal mengeluarkan dana negara untuk urusan militer.

Iran telah menolak campur tangan asing, terutama Barat, di dalam negaranya atau wilayah-wilayah regionalnya. Hal ini sudah terjadi bahkan memuncak sejak revolusi Islam di tahun 1979. Iran sangat konsisten menolak campur tangan militer negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, di wilayah Timur Tengah dan bahkan mengkritik campur tangan yang dilakukan mereka di negara-negara lainnya.

Baca juga:

Konflik Iran-Israel yang terjadi beberapa waktu lalu adalah bentuk balasan penyerangan di Tehran dan bukan untuk campur tangan dalam urusan Palestina. Iran dan Israel sendiri sudah bermusuhan sejak tahun 1979 ketika revolusi Islam terjadi. Para pemimpin Iran meyakini dan menganggap Israel sebagai penjajah yang terbukti menindas bangsa Palestina.

Saat ini, kondisi di Timur Tengah masih memanas. Beberapa pengamat militer mengkhawatirkan bahwa akan terjadi serangan skala besar yang selama ini diredam oleh kedua belah pihak. Dengan kekuatan militer dan pengaruh yang dimiliki, Iran terus menjadi aktor penting dalam dinamika konflik regional di Timur Tengah. [isr]

 

Ikuti Kabapedia.com di Google News

No More Posts Available.

No more pages to load.