Sudah Berdampakkah Ibadah Puasamu Setelah Hari Raya Idul Fitri?

oleh -178 Dilihat
Fadhilah, S.Psi. M.Pd.I, [Foto: Dok. Ist]

Oleh: Fadhilah, S.Psi. M.Pd.I,

Kaum muslimin telah selesai melaksanakan ibadah puasa Ramadhan 1447 Hijriyah. Tiga puluh hari lamanya ibadah bulan Ramadhan dilakukan setiap muslim. Ibadah yang dimaksud adalah puasa di siang hari dan menghidupkan malam di bulan Ramadhan mengisinya dengan ibadah sholat dan tadarus. Bahkan, agar tidak stagnan akan ibadah puasanya—tak mau sama saja seperti berpuasa di masa kanak-kanak—kaum muslimin yang dewasa juga melakukan itiqaf di sepertiga terakhir Ramadhan di masjid-masjid yang menyelenggarakannya. Tujuan puasa Ramadhan diperintahkan Allah SWT didalam Al-Quran tak lain dan tak bukan ialah untuk memperoleh predikat taqwa.

Baca juga: 

Bayangkan 30 hari seorang muslim dilatih menahan hal-hal yang dilarang untuk dilakukan saat berpuasa sesuai yang disyariatkan agama. Seperti menahan makan, minum, berhubungan suami istri dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Selain larangan tersebut, latihan yang tak kalah berat sebenarnya adalah puasa hati. Inilah level tertinggi dari ibadah puasa bahkan kaum sufi-pun level puasanya adalah puasa hati ini. Latihan puasa hati yakni selalu ingat akan Allah SWT. Ini artinya agar muslim yang berpuasa tidak mengembara kemana-mana pikirannya, tapi mengisi ibadah di bulan Ramadhan tersebut dengan tak lepas dari zikrullah itu sendiri. Kegiatan itu bisa lewat membaca Al-Quran, mentadabburi Al-Quran itu sendiri, bahkan bisa juga lewat tadabbur alam yang diamati. Karena semuanya terjadi tak lepas atas izn Allah SWt, dan hanya kepadanya kitab bisa memohon agar dikuatkan usaha kita untuk memperoleh keridhaannya. Begitu juga zikir jita dilanjutkan dengan doa-doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT. Karena ada saat-saat mustajab berdoa di bulan suvci ini. Sehingga dengan zikir kepada Allah hatipun menjadi tentaram dan terjaga dari hal-hal yang bisa merusak hati yang malah bisa juga berdampak pada kekhusyukan ibadah puasanya.

Dikatakan menjaga hati menjadi tantangan tersendiri karena di tengah kondisi yang lemah dan gampang ngantuk itu—bisa jadi akibat ketiadaan asupan makan dan minum saat siang hari–seorang muslim diminta juga “mempuasakan” hatinya. Sehingga hatinya tidak terlepas dari berkesadaran selalu ingat bahwa ia selalu diawasi Allah. Dengan demikian ia tak akan seenaknya mengikuti kehendak hawa nafsunya dalam berpikir dan berprasangka. Sehingga yang diharapkan dengan latihan selama 30 hari ini seorang muslim menjadi lebih sering berinteraksi dengan Al-Quran, dan mendekatkan diri kepada Allah, terlebih lagi di kegiatan ibadah menghidupkan malam di sepertiga malam terakhir di bulan yang mulia ini.

Beruntunglah bagi muslim yang di sepertiga terakhir diberi kesempatan menghidupkan malamnya dengan penuh kekhusyukan melakukan ibadah khusyuk dalam kesendirian menghambakan diri kepada Tuhan-nya. Sehingga, krtika tanggal berganti menjadi 1 Syawal, semua umat islam nya bersuka ria menyambut hari kemenangan yakni hari raya ‘Idul Fitri. Dimana di hari itu seluruhnya bersuka cita menyambut kehadiran hari yang dikatakan kembali kepada fitrah atau kondisi sebagaimana seorang anak manusia dilahirkan ibunya ke atas dunia bersih tanpa ada dosa.

Namun masalah tidak selesai hingga ibadah Ramadhan selesai. Ingat, tujuan ibadah puasa Ramadhan adalah agar orang beriman menjadi bertaqwa. Untuk menguji ketaqwaan itu ada lagi ujian berikutnya yang menunggu. Setelah kaum muslimin yang menuntaskan ibadah Ramadhan, maka sebagaimana tradisi di Indonesia, kaum muslimin di negeri ini memiliki tradisi mudik alias pulang kekampung halaman dan bersilaturrahmi dengan orang tua, karib kerabat dan handai tolan mereka. Disinilah ujian berikutnya berlangsung. Di saat kaum muslimin berada di suasana lebaran ini, justru tidak selamanya mereka bersuka cita. Kadang di tengah suka cita itu akibat semua bertemu dan berkumpul yang kegiatan ini, jiwa atau hati yang tidak waspada mengingat Allah bisa saja kembali terkotori akibat silaturrahmi yang jika tidak dilakukan benar-benar lurus niatnya Ikhlas karena Allah SWT. Kadang bagi si muslim yang belum menyiapkan kebeningan hati, ada hal yang menyebabkan fitri atau kesucian tadi jadi ternoda, seperti tidak siap menerima komentar yang terkesan fleksing/pamer atau bahkan terkesan mengintimidasi. Biasanya ini perihal masalah pencapaian manusia yang umumnya terjadi saat jarang bertemu, sehingga perasaan lawan bicara sering terlupakan akibat euphoria atau saking kegirangan hati karena berkumpul bersma kelaurag besar.

Hal yang biasa membuat lawan bicara jadi berkecil hati karena menanyakannya dengan kurang bijak akibat bertanya di tengah keramaian yang berpeluang seperti seolah memojokkan orang yang ditanya, biasanya seperti; menanyakan kapan selesai pendidikan (bagi yang terkesan kelamaan kuliahnya. Belum lagi pertanyan kapan nikah (bagi kerabat yang dilihat sudah berusia pantas untuk menikah, namun masih sendiri), kenapa belum dapat pekerjaan tetap (bagi yang dianggap pekerjaannya yang sekarang dipandang belum menjamin kesejahteraan masa depan bagi si yang nanya). Kenapa masih belum punya momongan (bagi yang sudah berkeluarga namun belum juga terlihat memiliki anak). Bahkan ada yang bergibah yang bahan gibahannya disesuaikan dengan siapa yang bersilaturrahmi.

Akhirnya ujung-ujungnya jika tidak berhati-hati hadapi hari raya, maka latihan menahan diri yang dilatih selama 30 hari sebelumnya itu akan menjadi sia-sia belaka kecuali jika kita lekas menyadarkan diri ini (dan tentu atas pertolongan Allah jua) untuk kembali lagi mengingat-ingat apa tujuan ibadah puasa kita yang 30 hari di bulan Ramadan itu, yakni agar setelah beribadah puasa kita ingin memperoleh predikat taqwa.

Baca juga:

Akhirnya mari kita evaluasi Kembali diri ini, apakah setelah beberapa hari masuk bulan Syawal 1447 H ini kita sudah bertindak, berpikir dan merasa seperti layaknya bertindak, berpikir dan merasanya seseorang yang bertaqwa? Atau malah tak kelihatan ciri-ciri orang yang bertaqwa itu di diri ini. Astagfirullahalii walakum. Selamat hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H. [**]

Tentang Penulis: Fadhilah, S.Psi. M.Pd.I, (Dosen Prodi Psikologi Islam, Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama, UIN Imam Bonjol Padang)

No More Posts Available.

No more pages to load.