Kebahagiaan dan Teh Hijau, Pembacaan Stoikisme

oleh -40 Dilihat
Khairil Mumtazi. [Foto: Dok. Ist]

Oleh: Khairil Mumtazi

Di tengah maraknya budaya self-improvement, kita hidup dalam zaman yang seolah selalu punya obat untuk setiap kegelisahan. Ketika merasa lelah, kita dianjurkan untuk berlibur. Saat kehilangan semangat, media sosial menyarankan mencoba hobi baru, membaca lebih banyak buku, berolahraga, atau bertemu orang-orang baru.

Baca juga:

Bahkan ketika merasa hampa tanpa alasan yang jelas, selalu ada daftar langkah yang diyakini mampu mengembalikan kebahagiaan. Tanpa disadari, kita mulai mempercayai satu asumsi: setiap rasa tidak nyaman adalah masalah yang harus segera diperbaiki.

Asumsi tersebut menarik untuk dibaca melalui lagu “Teh Hijau” karya Tulus. Sekilas, lagu ini terdengar seperti kisah seseorang yang sedang tidak mampu jatuh cinta. Namun, jika ditelaah lebih jauh, persoalan yang dihadirkan jauh melampaui sebuah hubungan romantis. Lirik seperti “Ada yang hilang dariku belakangan” atau “Sedang tak mudah bertemu rasa senang” menggambarkan pengalaman yang mungkin pernah dialami banyak orang, yaitu kehilangan sesuatu dalam diri tanpa benar-benar mengetahui apa yang hilang.

Yang menarik, tokoh dalam lagu tidak tinggal diam. Ia mencoba berbagai saran yang banyak sekali kita dengar hari ini seperti keluar ke alam, mencari pengalaman baru, bergerak lebih banyak, hingga membaca buku. Akan tetapi, seluruh usaha tersebut belum juga mengembalikan rasa senang yang dicarinya. Lagu ini tidak menawarkan jalan pintas menuju kebahagiaan. Sebaliknya, ia mengajak pendengar menerima kemungkinan bahwa ada fase-fase kehidupan yang memang tidak dapat dipercepat. Di titik inilah lagu Teh Hijau dapat dibaca melalui kacamata Stoikisme.

Stoikisme merupakan mazhab filsafat yang didirikan oleh Zeno dari Citium pada abad ke-3 sebelum Masehi. Berbeda dengan anggapan kebanyakan orang yang mengidentikkan Stoikisme dengan sikap dingin atau memendam emosi, tujuan utama filsafat ini adalah living according to nature yang berarti hidup selaras dengan kodrat alam. Bagi kaum Stoik, alam semesta bukanlah rangkaian peristiwa yang berjalan secara acak, melainkan memiliki keteraturan rasional yang disebut Logos. Segala sesuatu berlangsung dalam jaringan sebab-akibat yang tidak selalu berada dalam kuasa manusia.

Dari keyakinan terhadap Logos lahirlah pandangan yang dikenal sebagai determinisme Stoik. Kaum Stoik tidak mengatakan bahwa manusia sama sekali tidak memiliki kebebasan, tetapi mereka menolak anggapan bahwa manusia dapat mengendalikan seluruh kenyataan. Kita tidak dapat memilih kapan kehilangan datang, kapan kesedihan muncul, atau kapan perasaan bahagia kembali. Yang berada dalam kuasa kita hanyalah cara kita menyikapi semua itu. Pandangan inilah yang kemudian dirumuskan secara sistematis oleh Epictetus melalui konsep dikotomi kendali (dichotomy of control). Dalam Enchiridion, ia membuka ajarannya dengan kalimat yang terkenal: “Some things are up to us, and some are not.”

Prinsip tersebut menemukan kecocokan dalam lirik “Kulihat mana di kendaliku, teh hijau ini yang di tanganku.” Kalimat ini bukan sekadar tentang secangkir minuman. Yang lebih penting adalah perubahan arah perhatian tokoh lagu. Pada awalnya, ia sibuk mencari penyebab hilangnya rasa bahagia. Namun, pada bagian akhir, fokusnya bergeser dari sesuatu yang tidak dapat ia kendalikan menuju sesuatu yang benar-benar hadir dalam genggamannya.

Mengapa teh hijau? Kita tentu tidak dapat memastikan apa yang dimaksud Tulus ketika memilih metafora tersebut. Namun, sebagai sebuah pembacaan filosofis, pilihan itu terasa menarik. Berbeda dengan kopi yang kerap diasosiasikan dengan produktivitas atau air putih yang cenderung netral, teh hijau sering dikaitkan dengan ritual memperlambat ritme, menikmati proses, dan kembali kepada sesuatu yang lebih alami. Bahkan ternyata proses menyeduhnya sendiri menuntut kesabaran, seperti suhu air yang tepat, waktu seduh yang tidak tergesa, serta kesediaan menikmati rasa pahit dan sepat yang tidak selalu langsung menyenangkan. Dalam perspektif Stoikisme, semua itu dapat dibaca sebagai metafora tentang kehidupan yang tidak selalu dapat dipercepat, tetapi tetap dapat dijalani dengan penuh kesadaran. Secangkir teh hijau menjadi simbol kecil bahwa ketenangan tidak selalu ditemukan dengan mencari sesuatu yang jauh, melainkan dengan kembali kepada apa yang benar-benar hadir di hadapan kita.

Perubahan cara pandang tersebut juga dapat dijelaskan melalui konsep prohairesis, yakni kemampuan manusia memilih penilaian terhadap kenyataan. Bagi Epictetus, manusia tidak menderita semata-mata karena peristiwa yang dialaminya, melainkan karena penilaian yang ia berikan terhadap peristiwa tersebut. Kehilangan rasa bahagia adalah sebuah fakta. Akan tetapi, menganggap bahwa keadaan itu berarti hidup sedang gagal merupakan penilaian yang masih dapat dipertanyakan. Dengan kata lain, yang dapat kita kendalikan bukanlah kenyataan, melainkan cara kita memaknainya.
Lirik “Tapi kini kurayakan hampa ini” menjadi titik balik yang menarik dalam konteks tersebut.

Tokoh lagu tidak mengatakan bahwa kehampaannya telah hilang. Ia juga tidak mengklaim telah menemukan jawaban atas kegelisahannya. Sebaliknya, ia berhenti memusuhi keadaan yang sedang dialaminya. Dalam Stoikisme, penerimaan bukanlah bentuk menyerah terhadap kehidupan, melainkan keberanian untuk berdamai dengan kenyataan tanpa kehilangan kemampuan untuk bertindak.
Pembacaan ini semakin kuat ketika dikaitkan dengan gagasan amor fati yang kemudian dipopulerkan oleh Friedrich Nietzsche, meskipun berakar pada semangat Stoik. Amor fati berarti mencintai jalan hidup sebagaimana adanya, bukan karena seluruhnya menyenangkan, tetapi karena seluruh pengalaman, termasuk kehilangan dan kehampaan, merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri. Dari sudut pandang ini, kalimat “Esok akan lebih elok” tidak terdengar sebagai janji bahwa semua persoalan pasti selesai besok. Ia lebih menyerupai keyakinan bahwa apa pun yang datang esok hari tetap dapat dijalani dengan lapang.

Meski demikian, pembacaan Stoik terhadap Teh Hijau tidak boleh dipahami sebagai ajakan untuk pasrah. Kaum Stoik tidak pernah meminta manusia berhenti berusaha. Mereka justru menekankan pentingnya bertindak sebaik mungkin pada hal-hal yang masih berada dalam kendali. Tokoh dalam lagu tetap bergerak, mencoba, membaca, dan keluar dari rutinitasnya. Yang berubah bukan usahanya, melainkan obsesinya untuk memaksa hasil sesuai harapan.

Baca juga:

Di tengah budaya yang terus mendesak kita agar segera pulih, segera produktif, dan segera kembali bahagia, mungkin yang paling hilang bukanlah kebahagiaan itu sendiri, melainkan kesediaan untuk memberi ruang bagi proses. Kita semakin sulit menerima bahwa menjadi manusia juga berarti mengalami musim-musim ketika jawaban belum ditemukan dan rasa senang belum kembali. Mungkin itulah mengapa Teh Hijau terasa begitu dekat bagi banyak orang.

Ia tidak menjanjikan bahwa esok semua akan baik-baik saja. Ia hanya mengingatkan kita untuk melihat kembali apa yang masih berada dalam genggaman. Ketika dunia terus meminta kita segera bangkit, mungkin secangkir teh hijau di tangan bukanlah lambang seseorang yang telah selesai dengan hidupnya, melainkan seseorang yang akhirnya berhenti berperang dengan hidupnya. [***]

 

Tentan Penulis: (Khairil Mumtazi – Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia)

No More Posts Available.

No more pages to load.