Tradisi Meamuk-Amukan dan Simbol Meredam Amarah

oleh -367 Dilihat
Tradisi ‘Meamuk-amukan’ atau tradisi perang api yang berasal dari Desa Adat Padang Bulia, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. [Foto: Dok. infopublik]

Buleleng, Kabapedia.com – Di Provinsi Pulau Dewata Bali ada banyak tradisi yang digelar masyarakat menjelang Hari Suci Nyepi. Tradisi ini pula yang menyebabkan Bali menjadi primadona dan banyak dikunjungi wisatawan mancanegara.

Ini pula yang menjadi kekuatan Bali khususnya di Bali Utara. Salah satunya adalah tradisi ‘Meamuk-amukan’ atau tradisi perang api yang berasal dari Desa Adat Padang Bulia, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Tradisi Meamuk-amukan atau perang api ini biasanya dilakukan saat pengerupukan (sehari sebelum Nyepi) setelah upacara mecaru selesai. Sarana yang digunakan yaitu daun kelapa kering (danyuh) yang diikat kemudian dibakar dan diadu satu sama lain.

Kelian (Ketua) Desa Adat Padangbulia I Gusti Ketut Semara menjelaskan tradisi yang juga disebut mapuput ini mengandung sarat makna dan filosofi. Salah satunya untuk meredam amarah yang ada atau hawa nafsu yang timbul di dalam diri sendiri. Umat Hindu didalam melaksanakan Catur Brata Penyepian agar bisa mengekang hawa nafsu yang sifatnya bisa mengganggu.

“Itulah yang disimbolkan dengan meamuk-amukan yaitu memadamkan api amarah yang ada di dalam diri kita sendiri, ” jelasnya.

Tradisi ini merupakan tradisi turun temurun dan belum bisa dipastikan kapan tradisi ini dimulai. Biasanya para pemuda akan kembali ke rumah masing-masing setelah persembahyangan bersama di Pura. Tradisi meamuk-amukan atau perang api ini dilakukan secara spontan di setiap ruas jalan ataupun di depan rumah para pemuda. Tidak sengaja dikumpulkan untuk melakukan tradisi tersebut.

“Pesertanya pun tidak terbatas. Sehingga, seluruh krama (warga) Desa Adat Padangbulia bisa mengikuti,” ujar Semara.

Dengan penuh kesadaran para pemuda keluar dari rumahnya dan langsung melakukan tradisi Meamuk-amukan. Tidak hanya anak muda, pria paruh baya berumur hingga 40an tahun pun mengikuti tradisi ini. Tradisi ini biasanya dimulai pada pukul 18.30 hingga selesai. Waktu selesainya pun tidak bisa ditentukan. Bahkan hingga pukul 21.00 malam.

Meskipun menggunakan api, selama ini tidak ditemukan cedera atau luka parah yang dialami oleh peserta tradisi meamuk-amukan ini. Berbagai cara dilakukan oleh pemuda untuk meredam luka yang dialami oleh peserta tradisi. Ada yang menggunakan lidah buaya dan ramuan-ramuan lainnya yang digunakan untuk melumuri badan sebelum melakukan perang api.

Mengenai upaya untuk menghindari luka ini karena menggunakan api, Semara mengungkapkan ada cara khusus untuk menghindarinya. Namun, tidak semua peserta tradisi ini mengetahui hal tersebut. “Ada biasanya mereka pakai semacam minyak atau ramuan dari bunga untuk menghindari luka. Krena kalau sampai luka, bisa sampai seminggu,” ungkapnya,

Lebih lanjut, dirinya menambahkan tradisi Meamuk-amukan juga mengandung makna dan nilai kebersamaan dalam ikatan persaudaraan antar warga. Dilihat dari segi tradisi meamuk-amukan lain dengan makna kata ngamuk.

“Kita menyambut tahun baru Saka secara gembira, bersuka ria, dengan melaksanakan tradisi Meamuk-amukan,” imbuh Semara.

Baca Juga: Kental dengan Filosofi, Ini 3 Tradisi Unik Masyarakat Sumbar dalam Menyambut Bulan Ramadan

Sementara itu, salah seorang pemuda Putu Yoga mengatakan tradisi ini sudah turun temurun dilaksanakan setiap malam pengerupukan. Dirinya berharap tradisi ini semakin dikenal oleh orang banyak. “Saya sejak SMP sudah ikut. Karena ini tradisi. Pernah juga cedera terbakar sedikit. Tapi tidak sampai luka parah,” katanya. [*/Kpd]

 

Baca berita lainnya Kabapedia.com di Google News 

No More Posts Available.

No more pages to load.