Oleh: Dr. Pismawenzi, M. Ag
Krisis Akhlak dan Tantangan Pendidikan
Hampir semua sepakat, dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan besar. Banyak anak-anak yang pintar secara akademik, tetapi rapuh dalam akhlak. Fenomena degradasi moral, krisis spiritualitas remaja, hingga lemahnya empati sosial, menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas bagi pendidikan Islam.
Baca juga:
- Hari Kartini 2024: Mendorong Kesetaraan dan Pendidikan Berkualitas di Indonesia
- Lulusan UIN IB Harapan Baru Kemajuan Pendidikan Kota Padang
Di satu sisi, kita sudah lama menggaungkan pendidikan karakter. Tujuannya jelas: membentuk generasi berakhlak mulia. Namun faktanya, pendidikan karakter sering berhenti pada teori dan hafalan. Nilai kejujuran, tanggung jawab, atau kasih sayang kerap hanya menjadi kata-kata indah, tanpa benar-benar dihidupi.
Munculnya Gagasan Kurikulum Cinta
Beberapa waktu terakhir, muncul gagasan yang cukup menarik: kurikulum cinta. Ide ini sederhana, tetapi mendalam. Pendidikan tidak boleh kering dari kasih sayang. Proses belajar harus menyenangkan, penuh empati, dan menghadirkan relasi yang hangat antara guru, siswa, dan lingkungan.
Dalam Islam, cinta punya kedudukan sangat tinggi. Rasulullah ﷺ sendiri diutus bukan hanya untuk mengajarkan hukum, tapi untuk menebarkan kasih sayang sebagai rahmatan lil-‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Artinya, inti pendidikan Islam sesunguhnya adalah cinta: cinta kepada Allah, cinta kepada sesama, cinta pada ilmu, dan cinta pada kehidupan.
Bagaimana Sinerginya dengan Pendidikan Karakter?
Di sinilah menariknya. Pendidikan karakter menyediakan fondasi nilai — seperti kejujuran, amanah, dan keadilan. Sementara kurikulum cinta memberi ruh emosional agar nilai itu benar-benar hidup.
Contohnya, seorang anak diajarkan jujur bukan sekadar karena itu “aturan”, melainkan karena ia mencintai kebenaran. Anak belajar disiplin bukan karena takut dihukum, melainkan karena ia mencintai ketertiban dan menghargai orang lain.
Sinergi inilah yang akan melahirkan generasi muslim yang tidak hanya paham syariat, tapi juga menjalankannya dengan penuh kasih sayang.
Wujud Nyata di Sekolah
Bagaimana penerapannya? Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
Di kelas: Guru hadir sebagai sosok teladan yang penuh empati. Metode belajar berbasis proyek sosial atau lingkungan bisa membuat siswa belajar cinta dalam praktik nyata.
Ekstrakurikuler: Kegiatan bakti sosial, peduli lingkungan, hingga program ukhuwah Islamiyah bisa memperkuat nilai cinta dan kepedulian.
Budaya sekolah: Sekolah harus dibangun sebagai “komunitas kasih sayang”, tempat di mana siswa merasa aman, dihargai, dan dicintai.
Pendidikan Islam kontemporer perlu berani melangkah lebih jauh. Bukan hanya mencetak lulusan yang cerdas, tapi juga berakhlak dan berhati lembut. Sinergi pendidikan karakter dan kurikulum cinta menjadi jawaban penting untuk membangun generasi masa depan yang tidak hanya berdaya saing global, tapi juga membawa rahmat bagi sesama.
Karena pada akhirnya, inti dari pendidikan bukan sekadar mencerdaskan otak, melainkan juga menumbuhkan cinta di dalam hati. [isr]
Tentang Penulis: (Dr. Pismawenzi, M. Ag. Dosen Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang-Email: [email protected].id)





