Seminar Sehari “Suntiang Cucuak” Upaya Pelestarian Budaya

oleh -403 Dilihat
Dinas Pariwisata Kota Padang menggelar seminar sehari "Workshop Suntiang Cucuak" guna menggali kebudayaan dan tradisi. [Foto: Dok. Kabapedia]

Padang, Kabapedia.com – Dinas Pariwisata Kota Padang menggelar seminar sehari “Workshop Suntiang Cucuak” guna menggali kebudayaan dan tradisi. Kegiatan yang diikuti para Bundo Kandung itu dilaksanakan di Exhibition Lantai I Gedung Bagindo Aziz Chan Youth Center, Kamis (7/8/2025).

Baca juga:

Suntiang cucuak adalah salah satu jenis perhiasan tradisional Minangkabau. Biasanya dipakai sebagai hiasan kepala atau rambut, dan memiliki desain yang unik dan indah. Perhiasan ini sering digunakan dalam acara-acara adat dan pernikahan.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yudi Indra Syani mengatakan, diangkatnya tema “Suntiang Cucuak” pada seminar sehari pentahelix merupakan sebuah langkah dalam upaya pelestarian nilai budaya dan tradisi. Sekaligus pengenalan kembali Suntiang Cucuak kepada generasi muda.

“Kita mesti memahami pentingnya mempertahankan budaya dan tradisi lokal seperti halnya Suntiang Cucuak di tengah era modern dengan perkembangan kreatifitas yang ada.” katanya.

Seiring waktu, suntiang mengalami perkembangan dengan penambahan berbagai hiasan dan penggunaan bahan-bahan yang lebih mewah seperti logam dan batu-batuan. Begitu juga dengan bentuk, Sunting mengalami perkembangan, ada yang mempertahankan bentuk asli, ada pula yang dimodifikasi.

Suntiang cucuak tradisional umumnya memiliki bentuk yang lebih sederhana dan terbuat dari bahan alami seperti daun pandan, rotan, dan bunga-bungaan. Seiring waktu, suntiang mulai dibuat dengan bahan yang lebih bervariasi, seperti logam (emas, perak), kuningan, dan batu-batuan imitasi untuk menambah kesan mewah.

Begitu juga dengan cara pemakaian, suntiang cucuak mengalami perkembangan. Dulu, suntiang cucuak dipasang pada sanggul yang rumit dan berat. Namun, saat ini, ada inovasi dalam cara pemakaian, seperti menggunakan sanggul modern yang lebih praktis atau bahkan dikombinasikan dengan hijab.

“Meskipun mengalami perkembangan, suntiang cucuak tetap mempertahankan makna simbolisnya sebagai lambang keanggunan, kemuliaan, dan status sosial pengantin wanita dalam adat Minangkabau,” ulasnya.

Perkembangan suntiang tidak lepas dari peran para pengrajin yang terus berinovasi dalam menciptakan desain dan teknik pembuatan yang baru. Namun, ada juga kekhawatiran akan hilangnya keterampilan membuat suntiang tradisional karena kurangnya regenerasi pengrajin.

“Melalui kegiatan pengenalan kembali Suntiang tradisional, kita berharap nilai-nilai warisan tradisi dan kekayaan budaya dapat diwarisi,” tutupnya.

Baca juga:

Dalam kesempatan itu, Dinas Pariwisata Kota Padang juga menghadirkan para narasumber yang berasal dari kalangan pemangku adat, Bundo kandung, lembaga dan akademisi. [DU]

 

Ikuti Kabapedia Network di  Google News dan KabaPadang