Menguak Makna Palet Warna “17+8 Tuntutan Rakyat”

oleh -542 Dilihat
Palet Warna “17+8. [Foto: Dok. Ist]

Oleh: Alfaiz Rayhan Azhim 

Bulan Kemerdekaan Indonesia ke-80 ditutup dengan aksi massa yang menggema di hampir seluruh wilayah tanah air. Aksi massa adalah momen ketika ribuan orang menyuarakan aspirasi yang sama secara kolektif. Gelombang ini muncul dari kekecewaan publik terhadap elite politik yang dinilai gagal membangun retorika, hingga memicu ketidakpercayaan rakyat.

Baca juga:

Menariknya, aksi ini tidak hanya hadir di jalanan, tetapi juga membanjiri media sosial. Salah satu simbol yang paling mencuri perhatian adalah frase “17+8 Tuntutan Rakyat” dengan subjudul Transformasi, Reformasi, dan Empati. Uniknya, simbol ini hadir dengan palet warna yang tidak biasa: pink dan hijau.

Membaca Warna Lewat Kacamata Semiotika
Dalam teori semiotika Roland Barthes, setiap simbol memiliki tiga lapisan makna: denotasi (makna langsung), konotasi (makna tambahan), dan mitos (makna budaya yang lebih dalam).

Pink secara denotasi merupakan hasil campuran merah dan putih. Konotasinya lekat dengan kelembutan, cinta, dan kasih sayang. Namun, dalam mitos budaya modern, pink sering diasosiasikan dengan gerakan feminisme—warna yang melawan stereotipe gender dan melambangkan keberanian perempuan.

Hijau secara denotasi adalah warna alami yang kita lihat di alam. Konotasinya meliputi pertumbuhan, kesegaran, dan kehidupan. Dalam mitos budaya, hijau identik dengan agama Islam, aktivisme lingkungan, hingga keberuntungan dalam tradisi Irlandia.

Makna Pink dan Hijau dalam Aksi Massa
Dalam konteks “17+8 Tuntutan Rakyat”, warna pink dimaknai sebagai simbol aksi damai—sebuah perlawanan terhadap ketidakadilan tanpa kekerasan. Ia juga merepresentasikan solidaritas dan keberanian rakyat, sebagaimana viralnya sosok seorang ibu berjilbab pink yang berdiri di garis depan aksi.

Sementara itu, hijau menjadi lambang kebangkitan dan harapan baru. Warna ini juga menjadi wujud simpati terhadap Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang menjadi korban dalam bentrokan aksi.Kombinasi pink dan hijau akhirnya membentuk narasi kuat: aksi damai, solidaritas rakyat, dan kebangkitan bangsa.

Warna sebagai Simbol Perlawanan Damai
Fenomena ini menunjukkan kecerdasan gerakan massa dalam menggunakan simbol. Alih-alih hanya menonjolkan slogan, warna dijadikan medium komunikasi yang sederhana namun bermakna. Kehadiran warna pink dan hijau di linimasa media sosial—baik dalam unggahan maupun foto profil—membuktikan solidaritas publik yang meluas.

Baca juga:

Dengan cara ini, perlawanan rakyat tidak hanya terdengar lewat teriakan di jalan, tetapi juga terasa dalam simbol visual yang memperkuat ikatan kolektif. Aksi massa pun tidak lagi sekadar demonstrasi, melainkan transformasi simbolik menuju kesadaran bersama: menuntut keadilan dengan damai.

Tentang Penulis: (Alfaiz Rayhan Azhim / Mahasiswa Magister Komunikasi UNAND)

No More Posts Available.

No more pages to load.