13 Tahun Menulis, JS Khairen Bongkar Realita Pahit di Balik Bestseller dan Mimpi Jadi Penulis

oleh -11 Dilihat
Penulis buku Dompet Ayah Sepatu Ibu, JS Khairen saat berbincang bersama Feri Irwandi dalam Malaka Podcast. [Foto: Dok. Tangkapan Layar/Malaka]

Jakarta, Kabapedia.com – Perjalanan menjadi penulis ternyata tidak selalu dimulai dengan kesuksesan. Di balik novel-novel yang kemudian menjadi best seller, ada bertahun-tahun proses, naskah yang tidak laku, kegagalan, hingga keberanian mengambil keputusan besar.

Baca juga:

Hal itu diungkapkan penulis JS Khairen saat berbincang bersama Feri Irwandi dalam Malaka Podcast. Selama sekitar 13 tahun menekuni dunia kepenulisan, JS Khairen telah menghasilkan sekitar 20 buku dan merasakan sendiri bagaimana sulitnya membangun karier sebagai penulis di Indonesia.

JS Khairen mulai menerbitkan karya pada 2013 ketika masih berstatus mahasiswa. Namun, kesuksesan tidak langsung menghampiri. Ia mengaku harus melewati sekitar tujuh novel sebelum akhirnya menemukan momentum besar. Titik balik itu terjadi sekitar 2019 ketika novel kedelapannya mulai mendapatkan perhatian luas dan masuk kategori best seller.

Dari pengalaman tersebut, Khairen menyadari bahwa perjalanan seorang penulis tidak bisa diukur hanya dari satu atau dua karya. Ada proses panjang yang sering kali tidak terlihat oleh pembaca ketika sebuah buku akhirnya berada di rak best seller.

Keputusan untuk menjadi penulis penuh waktu pun tidak datang secara tiba-tiba. Khairen baru benar-benar meninggalkan pekerjaan dan memilih fokus menulis pada 2021. Keputusan itu diambil setelah ia menyiapkan tabungan yang menurut perhitungannya cukup untuk bertahan sekitar tiga tahun tanpa pemasukan. Ia juga mengaitkan keputusan tersebut dengan kelahiran anak keduanya. Bagi Khairen, menjadi penulis penuh waktu bukan sekadar persoalan meninggalkan pekerjaan, tetapi harus disertai perhitungan ekonomi yang matang. Ia bahkan mengingatkan calon penulis agar tidak terburu-buru berhenti dari pekerjaan hanya karena ingin mengejar mimpi sebagai penulis.

Menurutnya, persoalan ekonomi menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pekerja kreatif. Banyak orang melihat penulis dari sisi romantisnya: duduk, menulis, menerbitkan buku, kemudian mendapatkan royalti. Kenyataannya jauh lebih kompleks. Salah satu contoh datang dari novelnya, Dompet Ayah Sepatu Ibu, yang disebut telah mencapai sekitar cetakan ke-72 dengan penjualan sekitar 200 ribu eksemplar. Dengan harga buku sekitar Rp88 ribu dan royalti penulis sekitar 10 persen dari harga tersebut sebelum dipotong pajak, angka penjualan besar memang terdengar menggiurkan. Namun, pembagian ekonomi dalam industri buku membuat penghasilan penulis tetap perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.

“Selama tidak ada alternatif substitusi, maka situasi enggak akan berubah,” kata Khairen bercerita di video podcast YouTube @Malakaprojectid, disadur Kabapedia.com, Jumat (18/9/2026).

Pembicaraan itu kemudian berkembang menjadi diskusi tentang masa depan industri buku Indonesia. Khairen dan Feri melihat bahwa perkembangan internet sebenarnya memberikan peluang lebih besar kepada penulis untuk mengendalikan distribusi, promosi, hingga pengembangan karya. Buku tidak harus berhenti sebagai sebuah produk yang selesai ketika pembaca menutup halaman terakhir. Sebuah cerita dapat dikembangkan menjadi kekayaan intelektual yang lebih besar, mulai dari film, komik, animasi, permainan, hingga berbagai produk turunan lainnya. Karena itu, Khairen mulai memikirkan bagaimana karya-karyanya dapat dibangun sebagai sebuah ekosistem, bukan sekadar buku yang dijual di toko.

Feri Irwandi bahkan mendorong Khairen untuk mempertimbangkan membangun penerbit sendiri. Namun, Khairen mengaku masih mempertimbangkan apakah akan lebih fokus menjadi pemilik dan pengembang intellectual property atau masuk lebih jauh ke bisnis penerbitan. Baginya, tantangan terbesar bukan sekadar menerbitkan buku, melainkan bagaimana memastikan sebuah karya memiliki umur panjang dan dapat berkembang ke berbagai medium.

Salah satu karya yang kini memiliki peluang untuk berkembang ke medium lain adalah Dompet Ayah Sepatu Ibu. Novel tersebut tengah diarahkan menjadi film dan rencananya mengambil lokasi produksi di Sumatera Barat. Dalam pembicaraan itu disebutkan nama Gina S. Noer sebagai penulis skenario dan kemungkinan Naya Anindita sebagai sutradara. Cerita film tersebut memiliki akar yang sangat personal bagi Khairen karena terinspirasi dari perjalanan masa muda kedua orang tuanya di Sumatera Barat, termasuk pengalaman hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit.

Ada satu bagian dari kisah tersebut yang sangat membekas bagi Khairen. Ibunya merupakan salah satu dari 11 bersaudara dan pernah mengalami masa ketika tidak memiliki sepatu. Ia bahkan harus memperbaiki sepatu milik saudara-saudaranya. Sang ayah kemudian pernah berjanji akan membelikan sepatu baru jika ia berhasil melewati sebuah ujian. Namun, ketika ujian berlangsung, kakaknya datang ke jendela ruang kelas membawa kabar bahwa sang ayah meninggal dunia dalam perjalanan. Kisah itulah yang menjadi salah satu sumber emosi kuat dalam novel dan kemudian menarik perhatian produser film Chan Parwez. Dalam podcast tersebut, Khairen menceritakan bahwa setelah membaca beberapa halaman awal, Chan Parwez mengaku sampai menangis dan tertarik untuk membawa cerita itu ke layar lebar.

Meski demikian, Khairen tidak ingin film tersebut harus menyalin novelnya secara persis. Menurutnya, novel dan film merupakan dua medium yang berbeda sehingga memiliki bahasa dan kebutuhan kreatif masing-masing. Ia memberikan ruang kepada produser, sutradara, dan penulis skenario untuk menerjemahkan cerita tersebut sesuai karakter film. Baginya, yang paling penting adalah roh cerita tetap terjaga meskipun bentuk penceritaannya mengalami perubahan.

Selain Dompet Ayah Sepatu Ibu, Khairen juga tengah membawa pembaca memasuki dunia yang berbeda melalui novel fantasi Dream Notes: Kilau dan Gadang di Dunia Imaji. Karya tersebut lahir dari inspirasi kedua anaknya dan disebut telah melewati sekitar 11 kali proses penyusunan naskah. Dalam proyek ini, istrinya turut terlibat dengan membuat ilustrasi. Bahkan sebelum buku tersebut benar-benar beredar luas, respons pembaca melalui sistem preorder disebut telah mencapai sekitar 7.000 eksemplar.

Dream Notes menghadirkan dua tokoh utama, Kilau dan Gadang. Tokoh Kilau digambarkan sebagai seorang anak perempuan yang memiliki semangat dan daya juang kuat, sementara Gadang memulai perjalanan tanpa kekuatan elemen. Ia justru mendapatkan cangkul atau sekop yang kemudian menjadi bagian penting dari identitasnya. Bagi Khairen, konsep tersebut merupakan simbol seseorang yang memulai perjalanan dari bawah, bahkan dari kondisi yang seolah tidak memiliki apa-apa, tetapi kemudian menemukan jalan dan kekuatannya sendiri.

Yang menarik, Khairen tidak melihat Dream Notes semata-mata sebagai sebuah novel. Ia membayangkan cerita tersebut dapat berkembang menjadi graphic novel, animasi, komik, permainan, merchandise, dan berbagai bentuk karya lainnya. Dengan cara berpikir seperti itu, buku ditempatkan sebagai produk pertama, bukan produk terakhir. Model tersebut memperlihatkan bagaimana seorang penulis mulai melihat cerita bukan hanya sebagai tulisan, tetapi sebagai intellectual property yang memiliki potensi untuk terus berkembang.

Perjalanan panjang sebagai penulis juga membawa konsekuensi terhadap kondisi fisik. Khairen mengungkapkan pernah mengalami carpal tunnel syndrome akibat aktivitas mengetik secara intensif. Kondisi tersebut membuatnya kemudian memperhatikan kembali perangkat dan cara bekerja, termasuk menggunakan keyboard yang lebih ergonomis. Pengalaman itu menjadi gambaran lain bahwa profesi penulis yang terlihat sederhana dari luar ternyata juga memiliki tuntutan fisik dan mental yang tidak kecil.

Dalam percakapan tersebut, Khairen juga membongkar satu persoalan klasik di dunia kepenulisan: banyak orang mengaku ingin menjadi penulis, tetapi tidak benar-benar menulis. Menurutnya, proses kreatif memang membutuhkan keberanian untuk menghasilkan tulisan yang buruk. Sebagian besar ide yang muncul bahkan harus disaring dan dibuang. Ia menyebut sekitar 90 persen ide bisa saja tidak digunakan, tetapi proses menghasilkan banyak tulisan tetap penting karena dari sanalah karya yang bagus dapat ditemukan.

Pandangan itu sejalan dengan perjalanan Khairen sendiri. Tujuh novel pertama yang tidak menghasilkan kesuksesan besar justru menjadi bagian dari proses sebelum ia menemukan formula yang membuat namanya semakin dikenal. Karena itu, menjadi penulis tidak cukup hanya dengan memiliki ide bagus. Seseorang harus mau duduk, menulis, menyelesaikan naskah, menerima kemungkinan gagal, lalu kembali menulis. Dari proses panjang itulah kualitas dan karakter seorang penulis terbentuk.

Di bagian akhir perbincangan, Khairen mengajak masyarakat untuk kembali membangun budaya membaca. Ia menilai keluarga dapat memulai dari hal sederhana dengan menyediakan perpustakaan kecil di rumah. Semakin banyak anak dan keluarga berinteraksi dengan buku, semakin besar pula peluang tumbuhnya ekosistem literasi yang sehat. Pada saat yang sama, menurutnya, penulis, pembaca, dan penerbit juga perlu bersama-sama memperjuangkan agar buku lebih terjangkau dan kehidupan ekonomi penulis menjadi lebih baik.

Baca juga:

Bagi JS Khairen, perjalanan 13 tahun di dunia kepenulisan menunjukkan bahwa bestseller bukanlah titik awal, melainkan hasil dari proses panjang yang penuh kegagalan, kesabaran, dan keberanian untuk terus mencoba. Dari tujuh novel yang belum menemukan pembacanya, hingga karya yang terjual ratusan ribu eksemplar dan berpotensi diadaptasi menjadi film, perjalanan tersebut memperlihatkan satu hal sederhana: menjadi penulis bukan hanya tentang menulis cerita, tetapi tentang bertahan cukup lama sampai cerita itu menemukan jalannya sendiri. [isr]

No More Posts Available.

No more pages to load.