Di era Industri 4.0, di mana teknologi dan inovasi berkembang pesat, kadang hidup ini membutuhkan kondisi finansial yang mapan untuk tersambung terus dengan budaya hidup zaman now yang telah dikuasai budaya digital di hampir seluruh sektor kehidupan. Akhirnya mau tak mau semua orang sudah harus bisa terhubung dengan dunia digital jika mereka tetap ingin bertahan di era ini.
Akhirnya merawat lansia bergeser tidak saja tanggung jawab utama anak atau kerabat saja, namun menurut hemat penulis, butuh kolaborasi dengan pemangku pimpinan negeri alias kolaborasi dengan pemerintah dengan memperbarui kebijakan yang sebenarnya sudah ada, namun butuh penyesuain zamannya juga. Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana seharusnya kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan anak dewasa dalam merawat lansia agar mereka dapat hidup dengan layak dan bahagia?
Tantangan Perawatan Lansia di Era Industri 4.0
Perawatan lansia di era Industri 4.0 menghadapi beberapa tantangan, diantaranya: 1). Kurangnya tenaga kerja perawatan lansia: Banyak anak dewasa yang sibuk dengan pekerjaan dan tidak memiliki waktu untuk merawat orang tua mereka. 2). Keterbatasan fasilitas perawatan lansia: Fasilitas perawatan lansia yang tersedia masih terbatas dan tidak dapat menampung semua lansia yang membutuhkan perawatan. 3). Perubahan nilai-nilai keluarga: Perubahan nilai-nilai keluarga dan sosial dapat memengaruhi kesediaan anak dewasa untuk merawat orang tua mereka.
Kolaborasi Pemerintah, Masyarakat, dan Anak Dewasa
Untuk mengatasi tantangan perawatan lansia di era Industri 4.0, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan anak dewasa. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan: 1). Pemerintah: Pemerintah dapat menyediakan fasilitas perawatan lansia yang memadai, memberikan subsidi untuk perawatan lansia, dan membuat kebijakan yang mendukung perawatan lansia. Misalnya ada alokasi anggaran untuk penyediaan perawat yang berstatus PNS untuk melakukan hone care (kunjungan rumah), sehingga lansia bisa diberikan makanan, mengganti popok dan pemeriksaan Kesehatan berkala.
Ini menurut hemat penulis sangat membantu keluarga maupun lansia yang kondisinya sudah tirah baring alias di tempat tidur saja semua aktivitasnya. 2). Masyarakat: Masyarakat dapat bahu membahu membantu dengan menyediakan dukungan sosial, seperti layanan kunjungan dan bantuan sehari-hari, serta meningkatkan kesadaran tentang pentingnya merawat lansia, bukan malah menghujat tetangga yang memiliki lansia dengan kondisi yang terkesan dibiarkan. 3). Anak dewasa: Anak dewasa dapat berperan aktif dalam merawat orang tua mereka dengan menyediakan waktu dan perhatian, serta memanfaatkan teknologi untuk memantau dan membantu perawatan orang tua mereka. Bahkan mereka juga bisa berkolaborasi antar sesama saudara kandung ataupun karib kerabat dekat. Hitung-hitung untuk menambah amal shaleh kerabat mereka, dan tentu jika ini tidak memberatkan.
Teknologi sebagai Solusi
Di era Industri 4.0, teknologi dapat menjadi solusi untuk membantu perawatan lansia. Beberapa contoh teknologi yang dapat digunakan adalah: 1). Aplikasi perawatan lansia: Aplikasi yang dapat membantu memantau kesehatan dan kegiatan sehari-hari lansia. Hal ini bisa saja contohnya pembuatan aplikasi penyediaan informasi adanya keberadaan perawat professional yang siap home-care (kunjungan rumah) bagi anak lansia yang bekerja di jam kerja. Dan perawat ini agar tidak kemahalan dibayar, maka harus disubdisi oleh pemerintah. Atau bisa juga tenaga perawat ini dijadikan bertatus PNS namun peruntukannya khusus untuk perawat home-care. 2).
Sistem pengawasan jarak jauh: Sistem yang dapat memungkinkan anak dewasa memantau orang tua mereka dari jarak jauh. Pemasangan CCTV di rumah lansia misalnya. 3). Perangkat kesehatan pintar: Perangkat yang dapat memantau kesehatan lansia dan memberikan peringatan jika ada masalah. Nah, karena lansia identik dengan penurunan tidak saja kesehatan fisik, bahkan mental dan atau psikologis juga bisa terdampak, maka sudah saatnya ada semacam hiburan bagi lansia berupa ceramah agama dan hiburan yang sesuai dengan usia lansia sehingga lansia tetap merasa nyaman dan tenteram hidupnya alias jauh dari merasa terasing, tapi malah semakin ingat akan makna atau arti hidup terlebih hidup di usia senja.
Kesimpulan
Perawatan lansia di era Industri 4.0 memerlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan anak dewasa. Hal ini dilakukan lewat memanfaatkan teknologi dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya merawat lansia oleh berbagai pihak. Apalagi ajaran agama sudah menjadikan ini sebuah keharusan memperlakukan orang tua dengan penuh kasih sayang terlebih ketika mereka sudah masuk usia lanjut. Di Indonesia lansia dimulai umur 60 tahun ke atas.
Baca juga:
- 5 Masalah Sosial Darurat di Indonesia, Refleksi Keringnya Nilai Spiritualitas
- Terimakasih Atlet Sumbar, Biarkan Mereka yang Malu
Oleh karena itu, kerja sama dalam merawat lansia sudah saatnya saat ini butuh sinergi antaraanak dengan lansia, pemerintah dan para para ahli dan profesi yang bisa mewujudkan saran penulis di atas, sehingga tidak ditemukan lagi berita viral tentang penelantaran lansia oleh anak atau keluarga lansia. Semoga ini menjadi solusi yang bermanfaat untuk kemajuan peradaban negeri ini. [***]
Tentang Penulis: (Fadhilah, S.Psi,M.Pd.I – Akademisi Prodi Psikologi Islam UIN Imam Bonjol – e-mail: fadhilahrustam1@gmail.com)
